Gus Sastro Tegaskan Tanah Eks Markas Latihan Laskar Hizbullah di Bekasi Tak Terbantahkan
RAKYAT.NEWS, KAB. BEKASI – Tokoh Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU, Gus Sastro Adi, menegaskan keyakinannya bahwa keberadaan tanah wakaf eks markas latihan militer Laskar Hizbullah di Sukadami, Cikarang Selatan, Kabupaten Bekasi, memiliki dasar sejarah yang kuat dan tidak terbantahkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Sastro saat menghadiri peresmian Saung Saptawikrama Lesbumi NU Kabupaten Bekasi di Gedung Hizbullah PCNU Kabupaten Bekasi, Kamis (16/1/2025).
“Benar ini zuriat (keturunan KH Asy’ari Jombang) ada di sini. Kalau ada yang ngelak, kepret saja,” ujar Gus Sastro disambut tawa hadirin.
Menurutnya, keberadaan lahan eks markas latihan militer Hizbullah telah melalui proses verifikasi dan validasi sejarah yang jelas, baik dari sisi dokumentasi maupun kesaksian para pelaku sejarah. Karena itu, ia menilai pentingnya menyampaikan fakta sejarah yang akurat sebelum dikonsumsi publik.
“Kalau ini kan jelas, tanggalnya ada, dokumentasinya ada. Secara pribadi saya sangat setuju kalau di sini dibangun monumen sebagai penanda sejarah,” katanya.
Gus Sastro juga mengingatkan pentingnya menjaga kesinambungan sejarah keberadaan markas latihan militer Hizbullah tersebut. Ia menilai potensi disinformasi selalu ada, sehingga perlu penguatan bukti sejarah yang komprehensif.
“Nanti pasti ada saja yang mencoba membalikkan fakta sejarah. Karena itu penting ada artefak dan ideofak. Artefak itu bukti fisik dan dokumentasi, sementara ideofak adalah dasar pemikiran dan nilai sejarahnya,” jelasnya.
Ia juga menyinggung peran besar para kiai dan santri dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Menurutnya, semangat patriotisme yang diwariskan para ulama harus terus ditanamkan kepada generasi muda.
Sebelumnya, salah satu ahli waris KH Abdussalam Asy’ari, KH Mutamam Mahfudz, mengungkapkan sejarah lahan seluas sekitar 3.000 meter persegi yang merupakan eks pusat pelatihan militer Laskar Hizbullah pada era 1945 dan telah diwakafkan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
KH Mutamam menyebut dirinya memiliki bukti sejarah lengkap, mulai dari kronologis geografis sejak era VOC, dokumentasi tertulis, hingga kesaksian para saksi sejarah yang telah dibukukan.
“Berdasarkan data dan bukti yang kami miliki, lahan di Sukadami ini memang pernah menjadi markas pelatihan militer Laskar Hizbullah,” ungkapnya.
Ia mencatat, sekitar 500 santri pernah mengikuti pelatihan militer di lokasi tersebut, dengan 14 kiai dari berbagai daerah bertindak sebagai komandan laskar. Mereka antara lain KH Mustofa Kamil (Banten), KH Marwadi (Solo), KH Zakarsih (Ponorogo), KH Mursyid (Pacitan), KH Syahid (Kediri), KH Zein Thoyib (Kediri), KH Abdullah Abbas (Cirebon), KH Abdul Halim (Majalengka), KH Thohir Dasuki (Surakarta), KH Rojiun (Jakarta), KH Munasir Ali (Mojokerto), KH Wahib Wahab (Jombang), KH Hasyim Latif (Surabaya), dan KH Zainudin (Besuki).
Menurutnya, para santri kala itu mendapatkan pelatihan militer dan kedisiplinan secara ketat di bawah instruktur tentara PETA, serta pembekalan spiritual oleh para kiai. Pelatihan tersebut resmi ditutup pada Mei 1945 melalui sambutan tertulis Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang dibacakan oleh Abdul Kahar Muzakir.
KH Mutamam juga mengungkapkan bahwa pada 2003, dirinya bersama orang tuanya sempat menemui KH Yusuf Hasyim di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, untuk membahas status tanah wakaf eks pusat latihan Laskar Hizbullah tersebut. Setahun kemudian, KH Yusuf Hasyim meninjau langsung lokasi di Sukadami dan membenarkan bahwa lahan tersebut memang merupakan eks markas latihan militer Laskar Hizbullah.
Peresmian Saung Saptawikrama Lesbumi NU Kabupaten Bekasi ini menjadi momentum penguatan kembali narasi sejarah perjuangan ulama dan santri, sekaligus penegasan pentingnya menjaga warisan sejarah bangsa. (Dirham)








Tinggalkan Balasan